Tamu dari Bandung 15 October 2009
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Kejadian Terbaru, Pengalaman , 3 comments
Beberapa minggu yang lalu, seorang rekan blogger asal Bandung yang sudah saya kenal sejak lama tapi belum pernah ketemu, kang Indra "Odonk" K.H., mengirim pesan di Facebook, mengabarkan kalau beliau dan pak Budi Rahardjo akan berkunjung ke Singapura tanggal 9-11 Oktober 2009. Hari Sabtu (10/10) kemarin, Pak Budi menulis komentar di blog saya ngajak ketemuan, sekalian aja sama pak Budi Putra, katanya. Kebetulan memang pak Budi Putra sekarang lagi di Singapura, setelah beliau ditunjuk oleh Yahoo! sebagai Country Editor untuk Yahoo! Indonesia. Saya sendiri sempat bertemu dan ngobrol dengan pak Budi Putra seminggu sebelumnya, di Starbucks Suntec City Mall.
Kita janjian untuk ketemuan di Lucky Plaza, Orchard Road, untuk makan malam di restoran Lucky Prata, yang terletak di lantai satu pusat perbelanjaan tersebut, tepat di sebelah restoran Ayam Penyet Ria. Setelah membangunkan Irza yang ketiduran di mobil, saya ketemu dengan pak Budi Putra di depan Lucky Plaza dan langsung menuju restoran Lucky Prata. Pak BR sudah menunggu disana bersama dengan kang Indra KH, kang Rully dan putri pak BR yang sekolah di Singapura.
Dari kiri ke kanan: saya, pak Budi Putra, kang Indra KH, kang Rully dan pak Budi Rahardjo
Obrolan pun mulai mengalir dengan lancarnya, mulai dari misi kedatangan Pak BR dan team ke Singapura yang katanya dalam rangka "studi banding", sampai ke "terdamparnya" Pak Budi Putra di Singapura. Sebagai salah satu blogger Asia Blogging Network (ABN), kang Indra sempat menanyakan "nasib" ABN setelah Pak Budi Putra bergabung dengan Yahoo!, dan alhamdulillah Pak BP menegaskan bahwa ABN is his "baby" dan akan jalan terus, tidak akan ditinggalkan begitu saja. Jadi, untuk rekan-rekan blogger ABN, jangan khawatir.
Tanpa terasa, obrolan yang diselingi foto-foto terus berjalan dan karena Lucky Prata tidak buka sampai malam, kita pun pindah ke kafe The Coffee Bean and Tea Leaf yang terletak di Paragon, tidak jauh dari Lucky Plaza. Obrolan pun terus berlanjut dengan asyiknya, sampai pada akhirnya kita pun harus bubar karena harus mengejar batas jam malam yang diterapkan oleh asrama tempat putri pak BR tinggal.
Wawancara RSI - Blog Bicara: Mengulas Blog JaF 7 February 2008
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Obrolan Santai, Kejadian Terbaru, Pengalaman , 4 comments
Beberapa hari yang lalu, di sela-sela kesibukan di kantor, saya menerima telepon dari Efika Rosemary (Fika), salah satu penyiar Radio Singapore International (RSI) siaran bahasa Indonesia yang juga adalah rekan kerja dari JaF aka mas Rane. Kebetulan RSI Indonesia menyiarkan program baru yang dinamakan Blog Bicara, program mingguan yang membahas tentang blog dan blogging. Blog pertama yang diulas dalam program tersebut adalah blog Just Another Fool-nya mas Rane, jadilah dalam program ini, Fika mewawancarai mas Rane (penyiar mewawancarai penyiar lain).
Nah, kebetulan dalam program ini, saya diminta komentar singkat mengenai blog-nya JaF. Komentar yang cukup singkat, paling cuma 1-2 menit. Saya pikir selain dari saya, akan ada juga komentar dari rekan-rekan lain mengenai blog-nya JaF ini, ternyata hanya komentar saya (saja) yang dimasukkan.
Merasa tersanjung juga karena mas Rane menyebutkan blog saya sebagai salah satu blog favoritnya, walaupun sayangnya URL yang diberikan merujuk ke alamat blog saya yang tidak pernah saya pergunakan. Blog-blog lain yang menjadi favorit mas Rane adalah blog-nya Pak Budi Rahardjo, Priyadi, Budi Putra dan Paman Tyo.
Program acara tersebut telah disiarkan oleh RSI Indonesia pada hari Rabu (6 Februari 2008) kemarin, pada jam 21:35 waktu Singapura, atau jam 20:35 WIB. Jangan khawatir ketinggalan, podcast rekaman program acara tersebut bisa didengarkan dan di-download di link berikut:
http://indrapr.multiply.com/music/item/1
Aslinya diambil dari sini:
http://www.podcast.sg/rsi_indon/blogbicara/n080206_bb_jaf.mp3
Berikut adalah komentar saya mengenai blog JaF yang "ditayangkan" di program tersebut:
1. Beliau adalah sama-sama blogger Indonesia yang berbasis di Singapura;
2. Informasi yang menarik dan mengangkat topik-topik yang sedang hit, sebagai contoh adalah "kasus" Hady Mirza yang menjuarai Asian Idol;
3. Informasi tentang Singapura-nya juga cukup menarik dan bermanfaat; dan
4. Gaya bahasa yang asyik dibaca dan "renyah". *emangnya kue*
Untuk lebih jelasnya, silahkan dengarkan podcast-nya dengan meng-klik hyperlink diatas.
Link terkait:
Buka Puasa Kroner/Blogger Singapura Bersama Budi Putra 28 September 2007
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Obrolan IT, Kejadian Terbaru, Pengalaman , 4 comments
Hari Rabu (26/9) malam kemarin, saya berkesempatan untuk, sekali lagi, bertemu dengan Budi Putra, full-time blogger Indonesia pertama yang juga merupakan founder dan CEO dari Asia Blogging Network (ABN). Kebetulan Pak Budi sedang dalam “perjalanan dinas” ke Singapura, sehingga saya bersama Pak Rane/JaF “mengorganisir” sebuah acara buka puasa bersama kecil-kecilan di Lau Pa Sat, sebuah tempat makan yang terletak tidak jauh dari patung Merlion dan stasiun MRT Raffles Place. Tadinya kita merencanakan acara buka puasa bersama tersebut di restoran halal Evertop Hainanese Chicken Rice yang terletak di daerah Clementi, dekat tempat kediamannya Pak Rane, tapi ternyata restoran tersebut tutup setiap hari Rabu. Sehingga akhirnya kita memilih buka puasa di Lau Pa Sat, yang terletak tidak jauh dari hotel Swissotel the Stamford tempat Pak Budi menginap.
Walaupun tadinya acara ini merupakan acara buka puasa kroner (pengguna layanan micro-blogging Kronologger) Singapura bersama Budi Putra, pada akhirnya beberapa rekan blogger yang belum aktif kronning juga ikut bergabung. Selain Andri, salah seorang kroner aktif dari Singapura yang alhamdulillah bisa bergabung, saya juga berhasil mengajak Fajri, blogger Indonesia yang terkenal di komunitas ID-Gmail sebagai seorang “Pria Penipuh”
, untuk ikut bergabung. Pak Rane juga mengajak salah seorang rekan kerja-nya di RSI Indonesia, Aji Rokhadi, untuk ikutan.
Topik yang dibahas juga beragam. Mulai dari Kronologger, sejarahnya dari mulai dibikin sama Kukuh sampai diintegrasikan ke ABN. Juga dibahas tentang ABN itu sendiri, dimulai dari bentuk organisasinya, strategi bisnisnya (e.g. nyari revenue dari mana), dan lain-lain. Pak Budi cukup terbuka dalam sharing visi dan misinya di ABN, dan saya bersama rekan-rekan lainnya banyak belajar dan mendapatkan banyak ilmu dan informasi yang sangat berguna dalam diskusi tersebut.
Selain itu, juga dibahas mengenai rencana Pesta Blogger 2007 yang akan diadakan bulan depan, di Jakarta. Dalam kesempatan itu, saya membahas tentang undangan untuk para blogger Indonesia di Singapura untuk menghadiri acara Pesta Blogger 2007 tersebut. Undangan tersebut saya terima dari Enda via e-mail. Dalam kesempatan itu, dibahas juga mengenai komunitas blogger Indonesia di Singapura, yang walaupun sudah mempunyai blog aggregator Planet Singapura, namun masih belum mempunyai media komunikasi yang cukup memadai untuk saling bertukar informasi. Pada akhirnya, diusulkan untuk membuat sebuah milis untuk media komunikasi para blogger Indonesia di Singapura, khususnya kontributor Planet Singapura.
Tanpa terasa, obrolan yang seru membuat waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah hampir midnight dan Andri udah ketar-ketir takut ketinggalan kereta api (MRT) terakhir ke Jurong. Walaupun demikian, Pak Budi tidak lupa memberikan oleh-oleh berupa mug Kronologger asal Jogja yang di-desain oleh Thomas. Kelihatan kalo mug ini “asli Jogja” karena kertas koran yang dipakai untuk membungkus adalah koran daerah asal Jogja (saya kurang tahu nama korannya apa).
Wah, merupakan kehormatan tersendiri bisa mendapatkan mug ini, mengingat Kukuh sendiri katanya sampai sekarang masih belum mendapatkan mug tersebut.
Mengingat sebagian dari blogger yang mengikuti acara tersebut juga berjiwa kroner, live reporting termasuk skrinsyut acara tersebut langsung di-update ke Kronologger. Foto-foto lainnya bisa dilihat disini atau disini. Mohon maaf, kualitas foto-nya kurang bagus karena dibuat dengan menggunakan kamera HP dan diset resolusinya kecil supaya bisa langsung di-post ke Kronologger.
Perpanjangan Domain or.id Berhasil 20 July 2007
Posted by indra in : Teknis, Kejadian Terbaru, Pengalaman , 5 comments
Alhamdulillah, akhirnya perpanjangan domain or.id saya disetujui oleh tim PANDI. Saya menerima e-mail dari tim domain .ID PANDI yang memberitahukan bahwa permohonan untuk pembaharuan domain saya sudah disetujui, pada hari Senin, 16 Juli 2007 kemarin, 6 hari setelah saya melakukan pembayaran. Dua hari kemudian, pada hari Rabu, 18 Juli 2007, saya menerima e-mail dari bagian pembayaran PANDI yang memberitahukan bahwa pembayaran yang saya lakukan sudah diterima.
Saya baru saja cek ke portal registrasi domain .ID yang beralamat di https://register.net.id/, dan nama domain saya sudah diperbaharui dan berlaku hingga tanggal 1 Juli 2008 tahun depan.
Menjawab komentar Ken Reidy disini, berdasarkan informasi prosedur perpanjangan di website PANDI, peraturan yang mengkhususkan domain or.id untuk organisasi hanya berlaku untuk pendaftaran baru. Perpanjangan domain or.id lama bisa dilakukan tanpa harus menyertakan akte notaris atau syarat-syarat lain yang diterapkan untuk pendaftaran baru domain or.id.
Bagi rekan-rekan yang belum menerima e-mail dari PANDI, silahkan bersabar dan jangan terburu-buru untuk melakukan pembayaran. Toh batas waktunya masih lama (30 September 2007 untuk domain or.id).
Selamat memperbaharui domain-domain Anda.
Perpanjangan Domain or.id 11 July 2007
Posted by indra in : Teknis, Kejadian Terbaru, Pengalaman , 13 comments
Setelah pengelolaan CCTLD .id diserahterimakan dari Depkominfo ke PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), akhirnya saya menerima surat dari PANDI yang menyatakan bahwa satu domain saya yang berada dibawah sub-domain or.id telah habis masa berlakunya pada tanggal 1 Juli 2007, dan saya diberikan waktu hingga 1 Oktober 2007 untuk memperpanjang domain saya. Menurut website-nya PANDI, biaya untuk domain or.id adalah Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah, sekitar S$8.43 atau US$5.56) per tahun, yang menurut saya cukup murah untuk sebuah second level domain di bawah cctld .id. Sebenarnya, domain web.id lebih murah lagi, sekarang biayanya hanya Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) per tahun, namun saya sudah terlanjur menggunakan domain or.id untuk beberapa situs yang saya kelola, seperti Minda Indra, Planet Indra dan Planet Singapura.
Saya sempat kaget ketika membaca persyaratan untuk domain or.id yang juga harus menyertakan akte notaris atau SK intern organisasi, namun ternyata persyaratan ini hanya berlaku untuk pendaftaran baru saja. Alhamdulillah, jadi domain saya, yang didaftarkan sebelum peraturan baru ini mulai diimplementasikan, *seharusnya* tetap bisa diperpanjang. Kemungkinan besar peraturan baru ini diimplementasikan untuk mengkhususkan domain or.id untuk organisasi, dan bukan untuk umum. Sebelumnya, untuk mendaftarkan domain or.id, hanya dibutuhkan KTP.
Mengikuti prosedur perpanjangan yang ada di website-nya PANDI, kemarin (Selasa, 10 Juli 2007) saya sudah mentransfer uang sejumlah lima puluh ribu rupiah ke rekening BCA PANDI, melalui KlikBCA. Saya juga sudah mengirimkan e-mail ke pembayaran@pandi.or.id untuk mengkonfirmasikan pembayaran saya. Menurut informasi di website PANDI, selama masa transisi, diperlukan waktu sekitar 7 (tujuh) hari kerja untuk memproses perpanjangan domain ini. Mari kita tunggu dan lihat hasilnya.
Ngobrol dengan Budi Putra dan Rane Hafied 13 January 2007
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Obrolan IT, Obrolan Santai, Pengalaman , 8 comments
Pada tanggal 31 Desember 2006, tepat pada Hari Raya Idul Adha, saya menerima SMS dari Rane “JaF” Hafied, teman blogger di Singapura. Beliau mengucapkan Selamat Idul Adha, sekalian memberitahukan kalau Budi Putra, seorang blogger senior Indonesia yang juga adalah wartawan Tempo, akan datang ke Singapura pada tanggal 7 Januari 2007. Setelah nomor saya diteruskan oleh Pak Rane ke Pak Budi, tidak lama kemudian muncul SMS dari Pak Budi, yang mengajak saya dan Pak Rane untuk bertemu di hotel tempat beliau menginap di seputar Orchard.
Hari Minggu, 7 Januari 2006, saya menuju ke hotel Meritus Mandarin di seputar Orchard, tempat Pak Budi menginap. Sampai kesana sudah jam 8:45pm, telat 15 menit dari jadwal. Pak Rane ternyata sudah datang duluan, dan sempat mengobrol dengan Pak Budi di lobby hotel sebelum kemudian mereka menyambut kedatangan saya. Kita bertiga pun menyeberang Orchard Road menuju kafe Starbucks yang berlokasi tepat di seberang hotel.
Ditemani beberapa gelas kopi untuk Pak Budi dan Pak Rane, serta satu gelas ice chocolate untuk saya (yang memang tidak suka kopi), kita bertiga langsung terlibat dalam diskusi yang asyik, tentang blogging dan dunia blogosphere Indonesia. Sebagai seorang blogger pemula, saya benar-benar mendapatkan banyak ilmu dan informasi dari obrolan kita bertiga yang sangat fruitful itu. Pak Budi juga sharing tip dan trik-nya bagaimana untuk lebih “serius” dalam nge-blog, diantaranya adalah dengan menulis content yang bagus, dengan tema yang spesifik ke bidang yang memang kita kuasai, dan juga dengan penggunaan nama domain sendiri (tidak menggunakan blogspot.com atau wordpress.com, misalnya).
Obrolan juga terus berlanjut dengan diskusi mengenai dunia blog Indonesia pada umumnya, dari diskusi mengenai acara Blog Fun Day yang diadakan di Bandung bulan lalu, satpam yang ikutan nge-blog, sampai kasus seleb blog dan jablai blog yang mewarnai blogosphere Indonesia selama sebulan terakhir. Tak terasa, lebih dari dua jam kita ngobrol disana, sampai tidak terasa waktu sudah sangat larut malam, dan sudah waktunya saya pamit untuk menjemput istri yang baru selesai shopping di Paragon.
Kita masih menyempatkan untuk mampir kembali ke hotel, dan Pak Budi memberikan kenang-kenangan kepada saya dan Pak Rane, berupa sebuah buku berjudul “Planet Digital, Manuver CDMA di Indonesia“. Buku ini adalah buku kelima yang ditulis oleh Pak Budi, dan merupakan buku ketiga dari e-triloginya stelah Planet Seluler (2004) dan Planet Internet (2005). Pak Rane pun memberikan kenang-kenangan kepada saya dan Pak Budi, berupa sebuah buku agenda dari MediaCorp Radio, tempat Pak Rane bekerja.
Benar-benar merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga. We really had a fruitful and refreshing discussion, indeed. Sayang saking asyiknya ngobrol, jadi tidak sempat berfoto-foto dan bikin skrinsyut. Padahal udah bela-belain bawa kamera.
Ngurus SIM di Polres Depok 13 June 2006
Posted by indra in : Opini, Pengalaman , 50 comments
Mengingat kejadian tidak menyenangkan yang saya alami dalam perjalanan saya ke Mangga Dua pada tanggal 3 Juni 2006 yang lalu, saya mulai merasakan perlu-nya memperpanjang SIM (Surat Izin Mengemudi) saya yang sudah expired beberapa tahun yang lalu. Walaupun saya punya Singapore Driving License dan International Driving Permit yang dikeluarkan oleh AAS, tetap saja saya merasa kurang “sreg” dan “aman” berkendaraan di Jakarta tanpa SIM Indonesia yang resmi. Kebetulan ibu saya juga SIM-nya sudah expired, sehingga akhirnya pada tanggal 5 Juni 2006 yang lalu, kita berdua pergi ke Polres Depok untuk mengurus SIM. Mengingat KTP saya beralamat di rumah orang tua saya di Cinere, yang sekarang sudah masuk Kota Depok, pengurusan SIM dilakukan di Polres Depok.
Kita sampai ke Polres Depok sekitar jam 9:30 WIB pagi. Saya ingat pada tahun 1998 yang lalu, saya juga pernah ke tempat ini untuk mengurus SIM saya yang dulu, dan pada waktu itu, saya sudah disamperin seorang oknum polisi pas baru mau melewati gerbang kompleks Polres, menawari untuk ngurusin semua urusan pendaftaran SIM untuk saya. Kali ini, saya dan ibu saya sama sekali tidak didatangi oleh para oknum, malah kita yang harus nanya-nanya ke petugas yang jaga di depan, kemana harus mengurus SIM. Oleh petugas yang jaga di depan, kita diarahkan ke bagian belakang gedung.
Di loket pendaftaran SIM, terpampang dengan jelas diagram berisikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan SIM. Di bagian atas loket juga ada spanduk yang saya tidak ingat persis kata-katanya, tapi bunyinya kira-kira sebagai berikut: “Jika Mengikuti Prosedur dan Persyaratan, Bikin SIM Sendiri Itu Mudah Kok”. Tidak ada lagi calo-calo yang berkeliaran mencari mangsa, beda dengan 8 tahun yang lalu. Bravo!
Kita harus menyiapkan dua lembar fotokopi KTP, satu untuk pemeriksaan kesehatan dan satu lagi untuk pendaftaran. Kalau bisa, siapkan dua lembar fotokopi KTP sebelumnya, atau Anda bisa memfotokopi KTP Anda di ruang fotokopi di dalam kompleks Polres Depok.
Langkah pertama, adalah pemeriksaan kesehatan. Saya dan ibu saya langsung ke gedung bagian kesehatan yang berlokasi agak terpencil di bagian atas bangunan, di sebelah kiri jalan yang menurun ke bawah ke belakang. Disitu kita cukup naro fotokopi KTP, lalu menunggu nama kita dipanggil. Yang dites adalah ketajaman mata membaca huruf-huruf kecil, mirip dengan tes yang dilakukan optik untuk mencek mata, juga tes ishihara untuk mencek buta warna. Biayanya Rp 15 ribu per orang.
Setelah kita mendapatkan kertas kuning tanda lulus tes kesehatan, kita langsung datang ke bagian pendaftaran untuk mengajukan permohonan pembuatan SIM. Persyaratannya adalah fotokopi KTP dan hasil tes kesehatan tadi. Biayanya Rp 75 ribu untuk SIM baru, dan Rp 60 ribu untuk perpanjangan. Perlu diketahui bahwa perpanjangan SIM hanya bisa dilakukan jika SIM lama kita masih berlaku. Jika SIM kita sudah habis masa berlakunya, maka pengajuan SIM baru akan dianggap pendaftaran baru, bukan perpanjangan. Artinya, biaya pendaftarannya Rp 15 ribu lebih mahal, dan kita harus mengikuti kembali ujian teori dan praktek mengemudi.
Setelah membayar biaya pendaftaran, kita diberikan beberapa formulir yang harus kita isi nanti. Dari situ kita langsung ke bawah dan mengantri untuk membayar asuransi, sebesar Rp 15 ribu per orang. Setelah itu, kita harus mengisi semua formulir yang ada, dan memasukannya ke bagian pendaftaran sambil menunggu dipanggil untuk ujian teori.
Ujian teori-nya berupa soal pilihan ganda sebanyak 30 soal, dan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan semua soalnya adalah 15 menit. Jadi ya target setiap soal harus bisa diselesaikan dalam waktu 30 detik. Pengisian di lembar jawaban harus menggunakan pensil, tidak boleh menggunakan pulpen. Kalau tidak punya, pensil bisa dibeli di kaunter asuransi. Dari 30 soal itu, minimum 20 soal harus benar untuk bisa lulus. Jadi kalau ada salah lebih dari 10 jawaban, tidak akan lulus dan ujian teori harus diulangi lagi dua minggu setelahnya (tidak bisa langsung hari itu juga). Petugasnya akan memeriksa hasil jawaban kita langsung setelah kita menyerahkan jawabannya. Alhamdulillah, saya lulus walaupun ternyata saya menjawab 7 soal salah.
Masih mendingan ibu saya yang cuma salah 6.
Setelah lulus ujian teori, kita naik lagi ke atas untuk ujian praktek mengemudikan mobil. Untuk di Polres Depok ini, yang di-tes adalah mengendarai sebuah minibus Suzuki Carry lama (transmisi manual, tentu saja) naik ke jalanan menanjak, berhenti, lalu maju lagi tanpa mundur dulu. Disini, keahlian menggunakan rem tangan dan kopling sangat diperlukan. Setelah itu, kita harus memundurkan mobil tersebut dan membelokkan mobil tersebut secara mundur masuk kembali ke tempat parkir, dengan ban tidak boleh menyentuh dua garis di kiri dan kanan lot parkir. Alhamdulillah, saya dan ibu saya juga lulus.
Setelah lulus ujian praktek, kita ke ruang photo untuk membuat foto, dan SIM baru kita akan langsung tercetak segera setelah proses foto dilakukan. Hanya sekitar 5 menit setelah saya difoto, saya sudah langsung dipanggil dan mendapatkan SIM baru saya, sekitar jam 1 siang. Itu pun karena kita harus menunggu petugasnya makan siang dan sholat dulu sebelum kita bisa foto. Total jenderal waktu yang dibutuhkan untuk membuat SIM baru tersebut hanya setengah hari! Benar-benar mengagumkan dan tergolong efisien (untuk ukuran Indonesia, tentu saja). Bandingkan dengan dulu yang bisa membutuhkan waktu seharian, atau bahkan berhari-hari untuk bisa mendapatkan SIM. Total biaya yang dikeluarkan untuk pengurusan SIM ini juga tidak lebih dari Rp 110 ribu per orang. Bandingkan kalau menggunakan biro jasa yang men-charge Rp 600 ribu per orang untuk pengurusan SIM.





