#IndonesiaUnite: Kronologger dan Koprol 23 July 2009
Posted by indra in : Opini, Blogging , 12 comments
Terkait gerakan #IndonesiaUnite pasca ledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, beberapa waktu yang lalu, saya sempat prihatin melihat penggunaan Twitter yang begitu meluas di kalangan microbloggers Indonesia untuk menyebarkan gerakan #indonesiaunite, sementara Kronologger tetap adem-ayem dan semakin sepi saja. Ini berarti, rekan microbloggers Indonesia masih lebih suka menggunakan produk luar negeri seperti Twitter, Plurk dan Facebook dibandingkan produk dalam negeri seperti Kronologger. Cukup ironis, gerakan yang mengajak Indonesia untuk bersatu itu ternyata dipopulerkan dan disebarkan menggunakan platform produk luar negeri, padahal ada similar platform yang merupakan karya anak bangsa Indonesia sendiri.
Kenapa banyak kroner (sebutan untuk pengguna Kronologger) yang meninggalkan Kronologger dan berpindah ke platform lain? Mencari jaringan yang lebih luas, mungkin? Saya kurang tahu. Padahal, Kronologger sudah menyiapkan all-in-one interface yang memfasilitasi kita untuk melakukan update Kronologger, Twitter, Plurk, Facebook dan banyak situs lainnya, secara otomatis, seperti yang selama ini saya lakukan. Tapi mungkin salah satu alasannya adalah karena kurangnya inovasi dari pengelola Kronologger untuk menjadikan situs microblogging tersebut lebih aktif dan dinamis. Hal ini yang mungkin perlu di-review kembali oleh Kukuh dan Asia Blogging Network selaku pengelola situs tersebut.
Di Twitter (tuh kan, bukan di Kronologger
), Veta mengingatkan saya kalau produk platform microblogging Indonesia bukan hanya Kronologger, tapi juga ada Koprol. Ini adalah situs microblogging berbasis lokasi yang digagas oleh Satya bersama rekan-rekannya dari SkyEight. Saya sebenarnya sudah mendaftar ke layanan situs itu sejak beberapa waktu yang lalu, tapi baru mulai benar-benar menggunakan layanan tersebut seminggu terakhir ini. Karena saya sudah terbiasa menggunakan interface di Kronologger untuk meng-update entry saya di Kronologger, Twitter, Facebook dan Plurk sekaligus, saya bertanya ke Kukuh apakah interface Kronologger bisa sekalian untuk check-in dan update Koprol. Menurut Kukuh, Koprol belum menyediakan API untuk itu.
Waktu saya coba konfirmasi ke Satya, memang Koprol secara resmi belum menyediakan layanan API, namun mereka bisa menyediakan layanan API tersebut, dengan full support, tentunya, kepada pihak-pihak tertentu yang memang berminat untuk melakukan integrasi. Menurutnya, Ivan Lanin juga pernah menunjukkan minat yang sama. Akhirnya, dengan pengalaman saya sebagai kompor — dalam segi positif, tentu saja
— saya mengusulkan agar Kukuh langsung mengontak Satya. Dan alhamdulillah, saya dengar Kukuh dan Satya sudah bertemu waktu makan siang tadi untuk membahas integrasi ini.
Mari kita berdoa, semoga hasil pertemuan Kukuh dan Satya tadi siang bisa menghasilkan inovasi yang menguntungkan keduanya (Kronologger dan Koprol) dan bermanfaat bagi kita semua, microbloggers Indonesia. Dan, semoga inovasi-inovasi selanjutnya dari Kronologger dan Koprol bisa menarik microbloggers Indonesia untuk kembali menggunakan produk dalam negeri.
Indonesia, Unite!!
Kenapa Merdeka Dimatikan? 15 February 2009
Posted by indra in : Opini, Blogging , 14 comments
Walaupun saya tidak pernah menjadi anggota blog agregasi Merdeka, namun sampai sekarang, saya selalu bertanya-tanya kenapa blog agregasi tersebut dimatikan. Dan kelihatannya, I’m not the only one. Pujiono juga pernah menanyakan hal yang sama tahun lalu. Demikian pula halnya dengan Fatih, yang menanyakan hal yang sama hari ini. Malah beliau kayaknya baru tahu kalo Merdeka sebenarnya sudah lama mati, sejak Oktober tahun lalu (atau mungkin sejak akhir September, kalo menurut Pujiono).
Tidaklah mengherankan, jika banyak blogger Indonesia yang merasa “kehilangan” dengan matinya Merdeka. Pada masa jayanya dulu, Merdeka adalah salah satu blog agregasi yang populer di dunia blogosphere Indonesia. Merdeka juga adalah salah satu komunitas blogger Indonesia yang bisa dibilang cukup elit, mengingat proses penyaringan anggota Merdeka yang menggunakan sistem open submission dan voting. Basis pembacanya juga banyak. Suka atau tidak suka, Merdeka sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan blog di Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak blogger Indonesia yang mempertanyakan alasan kenapa Merdeka dimatikan.
Kalo menurut komentar Andry di artikel-nya Pujiono, beliau belum ada waktu (dan tenaga) untuk re-born Merdeka. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak terlalu banyak waktu dan tenaga yang diperlukan untuk me-maintain sebuah agregasi blog. If my memory didn’t fail me, seingat saya Merdeka menggunakan blog engine Wordpress dan plug-in FeedWordPress, sama dengan Planet Singapura yang saya kelola. Tidak banyak waktu dan tenaga yang diperlukan, sebenarnya, kecuali pada waktu kita ingin menambah atau menghapus dari daftar kontributor, atau jika ada masalah teknis seperti yang dialami Planet Singapura beberapa minggu yang lalu. Diluar itu, program sindikasi akan berjalan secara otomatis untuk meng-agregasi blog-blog para kontributor.
Saya mengerti kalau Andry sekarang sibuk mengurusi Blog Detik, apalagi beliau harus bekerja keras untuk menjaga uptime dan performance layanan blog tersebut, mengingat Blog Detik sangat populer dan laris digunakan banyak blogger Indonesia (termasuk saya) saat ini. Namun saya khawatir, apakah benar alasan kesibukan dan ketiadaan waktu (dan tenaga) merupakan alasan utama Merdeka dimatikan?
Di blog-nya yang dulu (yang juga sekarang sudah mati), Andry pernah menulis kalau blog sudah mati. Beliau kelihatannya berpendapat kalau blog itu sudah tidak punya masa depan. Apakah mungkin, alasan tersebut yang menyebabkan beliau tidak lagi semangat untuk mengelola Merdeka dan memutuskan untuk mematikannya? Adalah sangat disayangkan, jika sebuah komunitas blogger di Indonesia bisa hilang begitu saja, hanya karena pengelolanya kehilangan semangat nge-blog. Mudah-mudahan saya salah, I hope I was wrong.
Apapun jawabannya, saya berharap Merdeka bisa segera lahir kembali. Seperti yang ditanyakan oleh Andry di blog Pujiono, ada yang mau membantu?
Merdeka! *eh belum 17 Agustus, ya?*
Pesta Blogger 2008: 22 November 2008 24 October 2008
Posted by indra in : Opini, Kejadian Terbaru, Blogging, pb2008 , 12 comments
Akhirnya, setelah sempat diundur selama sebulan, perhelatan akbar terbesar blogger Indonesia tahun ini, Pesta Blogger 2008, dipastikan akan diadakan pada hari Sabtu, 22 November 2008, di gedung BPPT II, Thamrin, Jakarta.
Kepastian penyelenggaraan acara ini diharapkan bisa menjadi angin segar bagi blogosphere Indonesia, terutama setelah akhir-akhir ini dirasakan dunia blog Indonesia sudah tidak lagi seramai dulu, yang mana wabah micro-blogging bisa jadi salah satu penyebabnya. Seorang Andry pun bahkan sampai bilang kalo blog sudah mati, dan paling tidak ini terbukti dengan situs agregasi Merdeka-nya yang sekarang juga sudah tidak aktif lagi.
Yang lebih menyegarkan lagi, penyelenggaraan acara Pesta Blogger 2008 ini, seperti halnya tahun lalu, didukung penuh oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini, oleh Menkominfo Muhammad Nuh. Dalam konferensi pers yang diadakan hari Rabu yang lalu, beliau mengatakan bahwa blogger mempunyai kontribusi positif kepada masyarakat (society), dan kebebasan berekspresi akan menumbuhkan kreativitas. Hal ini berbeda sekali dengan situasi di Malaysia, dimana pemerintah-nya malah clamping down on bloggers. Ini adalah satu hal lagi yang patut disyukuri oleh blogger Indonesia, dan diharapkan hubungan baik antara blogger dan pemerintah Indonesia ini dapat terus berjalan dengan baik.
Saya melihat ada beberapa blogger, termasuk Pak JaF disini, yang "mempertanyakan" kenapa harus mengikutsertakan pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini, kedutaan besar Amerika Serikat di Indonesia) untuk menjadi sponsor utama Pesta Blogger 2008. Pendapat saya sih, selama mereka memang ada duitnya dan mau nyeponsorin, kenapa tidak?
Mungkin mereka juga mendukung kebebasan berekspresi dalam nge-blog di Indonesia, atau mungkin juga mereka juga ingin membantu menyebarkan wabah blogging di Indonesia (apalagi mengingat banyak provider blog seperti BlogSpot, Wordpress dan Multiply yang di-host di Amerika Serikat). Tidak perlu lah dikaitkan dengan politik.
Sekali lagi, selamat kepada para panitia penyelenggara acara Pesta Blogger 2008, semoga acaranya berjalan dengan lancar dan sukses. Sayang sekali, lagi-lagi saya kemungkinan besar tidak akan bisa mengikuti acara ini, mengingat pada tanggal 22 November 2008 saya masih akan di Singapura dan baru merencanakan pulang mudik ke Indonesia pada tanggal 29 November 2008. Mudah-mudahan saya akan bisa ikut acara Pesta Blogger tahun depan.
Prihatin 6 August 2008
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Opini, Kejadian Terbaru, Blogging , 5 comments
Saya turut prihatin setelah mendengar (red: membaca) kabar bahwa salah satu artikel dari teman saya, yang juga merupakan salah satu kontributor Planet Singapura, dibajak mentah-mentah oleh wartawan sebuah surat kabar terkemuka di Indonesia. Apalagi setelah mengetahui bahwa wartawan tersebut mendapatkan artikel tersebut melalui Planet Singapura, blog agregator yang saya kelola.
Turut prihatin karena media Planet Singapura tersebut digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk meng-copy paste sebuah artikel, lalu dipajang mentah-mentah di surat kabar tersebut, tanpa seijin pemilik artikel, dan tanpa ada proses editing lebih lanjut. Walaupun, di lain pihak, saya pun mulai menyadari power (kekuatan) dari blog aggregator ini.
Walhasil, saya pun sekarang jadi lebih berhati-hati untuk memasukkan sebuah blog ke daftar sindikasi Planet Singapura. Paling tidak, saya sekarang akan selalu memberi tahu pemilik blog bahwa blognya saya masukkan ke daftar sindikasi Planet Singapura. Dan sesuai dengan disclaimer policy Planet Singapura, bagi rekan-rekan blogger Indonesia di Singapura yang keberatan blog-nya saya sindikasikan di Planet Singapura, silahkan kontak saya. Upon request, saya akan langsung menghapus blog-nya dari daftar sindikasi, no question asked.
Hmm… kayaknya kampanye “Jangan Asal Copy Paste“-nya Pak JaF harus mulai digalakkan lagi, nih. Tidak hanya untuk para blogger, tapi juga untuk para wartawan. Apalagi wartawan yang tidak bisa membedakan antara milis dengan agregator blog.
Ancaman Serius Bagi Blogger Indonesia? 28 March 2008
Posted by indra in : Opini, Kejadian Terbaru, Blogging , 17 comments
Berikut adalah tulisan dari rekan blogger Anggara yang mengatakan bahwa RUU ITE adalah ancaman serius bagi blogger Indonesia. Menarik, karena tulisan tersebut ternyata menimbulkan pro dan kontra di kalangan blogger Indonesia sendiri.
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran RUU ITE tersebut, walaupun terus terang, saya belum membaca seluruh pasal dari RUU ITE tersebut dan hanya membaca poin-poin yang sudah diangkat oleh Anggara. Saya justru melihat aturan ini bisa membantu para blogger Indonesia untuk lebih responsible dan bertanggung jawab dalam menulis artikel di blog.
Seperti yang saya pernah tulis disini, pemerintah Indonesia sebenarnya lebih memberikan kebebasan kepada pers-nya, baik media konvensional maupun citizenship journalism (baca: blogger), untuk mengekspresikan pendapat dan pandangan mereka. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang mengontrol pers mereka dengan ketat. Bahkan, hubungan antara pemerintah Indonesia dengan komunitas blogger Indonesia sudah semakin erat dengan diadakannya acara Pesta Blogger tahun lalu dan pencanangan Hari Blogger Nasional oleh Menkominfo Mohammad Nuh. Marilah kita memanfaatkan kebebasan pers di Indonesia ini secara bertanggung jawab (responsibly) dan seperti yang Harry bilang, jangan sampai menjadi “kebablasan pers“.
Saya sangat menyayangkan pernyataan dari Roy Suryo yang mengaitkan blogger dengan tindakan penyerangan terhadap situs Depkominfo. Tidak ada bukti bahwa tindakan hacking tersebut dilakukan oleh seorang blogger. Walaupun demikian, saya merasa tindakan ini adalah salah satu pemanfaatan kebebasan pers yang — menurut saya — terlalu kebablasan.
Alangkah baiknya jika hubungan baik antara pemerintah dan komunitas blogger Indonesia, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, bisa terus dijaga dengan baik. Kita tidak mau kontrol media yang terlalu ketat — seperti yang terjadi di Malaysia dan Singapura — juga terjadi di Indonesia, bukan?
Agregasi Blog: Perlukah Meminta Ijin Kepada Pemilik Blog? 29 February 2008
Posted by indra in : Teknis, Komunitas Singapura, Obrolan IT, Opini, Blogging , 5 comments
Artikel Mbak Hany tentang aggregator (yang tanggal posting-nya masih dimundurkan beberapa hari, hehehe…) mengingatkan saya dengan wawancara saya dengan RSI Indonesia mengenai Planet Singapura, situs agregasi blogger Indonesia di Singapura yang saya kelola. Dalam wawancara tersebut, Fika memberikan pertanyaan yang cukup menarik:
Apakah kita perlu meminta ijin kepada pemilik blog sebelum mengagregasikan blog-nya di situs agregasi yang kita kelola?
Saya waktu itu menjelaskan bahwa berdasarkan best practice para pengelola situs agregasi blog, kita tidak perlu meminta ijin kepada pemilik blog untuk mengagregasikan blog-nya ke situs agregasi yang kita kelola. Untuk kasus Planet Singapura, saya biasanya akan memberi tahu pemilik blog yang bersangkutan bahwa blog-nya saya masukkan ke daftar sindikasi, walaupun memang saya tidak minta ijin sebelumnya kalau blog-nya mau saya masukkan.
Salah seorang blogger senior Indonesia, Priyadi, juga mengatakan bahwa blog beliau saat ini diagregasi oleh sekitar selusin situs agregasi blog, dan hanya situs agregasi Merdeka yang meng-agregasi blog Priyadi atas permintaan beliau sendiri. Yang lainnya memasukkan blog beliau atas inisiatif pengelola situs agregasi itu sendiri, dan umumnya tanpa sepengetahuan beliau.
Walaupun demikian, saya mengerti bahwa ada beberapa blogger yang membuat blog-nya untuk konsumsi pribadi, atau mungkin hanya untuk konsumsi teman-teman dekatnya saja, dan untuk blog-blog seperti ini, biasanya saya akan meminta ijin dulu kepada pemilik blog, sebelum saya menambahkan blog-nya ke situs agregasi yang saya kelola.
Khusus untuk Planet Singapura, saya membuat disclaimer di halaman About Planet Singapura sebagai berikut:
From time to time, I might be adding new relevant interesting blogs to be syndicated here, upon my discretion. Please do not hesitate to contact me if you specifically do not want your blog to be syndicated here, and I shall remove it from the syndication list.
Alhamdulillah, hingga saat ini, saya belum pernah menerima komplain atau protes dari kontributor Planet Singapura yang ingin blog-nya dihapus dari daftar sindikasi. Yang pernah saya terima justru adalah beberapa e-mail dari blogger Indonesia di Singapura yang meminta blog-nya dimasukkan ke daftar kontributor Planet Singapura.
Biasanya, selama blog-nya memenuhi kriteria (blog milik blogger Indonesia yang tinggal di Singapura), akan langsung saya masukkan. Berdasarkan pengalaman dari beberapa rekan blogger, situs agregasi justru membantu blog tersebut menjadi semakin ramai dikunjungi orang.
Back to the original question, bagaimana menurut pendapat Anda? Berdasarkan etika, apakah perlu meminta ijin kepada pemilik blog sebelum blog-nya dimasukkan ke situs agregasi blog yang kita kelola?
Link terkait:
Kategori Tertentu untuk Agregasi 26 February 2008
Posted by indra in : Teknis, Obrolan IT, Opini, Blogging , 10 comments
Blog engine Wordpress memberikan fasilitas RSS feed untuk setiap kategori yang ada di blog kita. Sebagai contoh, kategori Teknis di blog Minda Indra saya mempunyai RSS feed tersendiri yang bisa diambil disini. Saya kurang tahu apakah fasilitas ini hanya untuk blog Wordpress dengan themes tertentu, atau berlaku untuk semua blog berbasis Wordpress, regardless of themes yang dipakai.
Situs agregator seperti Planet Singapura, Planet Terasi, Planet Blogger dan Rumah Blogfam memanfaatkan fasilitas RSS feed setiap blog untuk melakukan agregasi. Sehingga, secara teknis, dimungkinkan untuk mengagregasi kategori tertentu dalam sebuah blog, dengan menggunakan RSS feed dari kategori tersebut, dan bukan RSS feed seluruh blog.
Terkait dengan polemik antara Pak Budi Rahardjo, Adinoto dan Eep yang berlanjut dengan petisi yang meminta blog Pak Budi dikeluarkan dari situs agregat Planet Terasi, saya mengusulkan bagaimana kalau hanya kategori Teknologi Informasi dari blog Pak Budi yang diagregasikan ke Planet Terasi. RSS feed-nya bisa diambil disini.
Dengan demikian, tulisan-tulisan Pak Budi yang berkaitan dengan IT tetap dapat dinikmati oleh pembaca Planet Terasi, dan Pak Budi juga masih bisa bebas menulis topik-topik lain yang tidak berkaitan dengan IT di blog yang sama, dan tulisan-tulisan non-IT tersebut tidak akan muncul di Planet Terasi.
Setahu saya, Harry Sufehmi sudah melakukan hal ini. Beliau sudah membuat arrangement dengan Ronny Haryanto agar Planet Terasi hanya menampilkan artikel di kategori Teknoblogia-nya saja. Mungkin inhabitant Planet Terasi yang lain (termasuk saya) juga mau menyusul dan melakukan hal yang sama?
Gimana, mas Ronny?
PS. Tulisan ini terinspirasi oleh komentar Boy Avianto disini.
Link terkait:
- To Adinoto dan Eep
- Intimidasi Blog dan Multi Dimensi
- Soal Petisi Planet Terasi itu
- Bola Liar "To Adinoto dan Eep"
- Keluarkan Blogs Milik Budi Rahardjo dari Planet Terasi?
- Jawaban Untuk Bapak Budi Rahardjo
- Independensi Blog
- Petisi Pecas Ndahe
- Budi Rahardjo, Planet Terasi dan Petisi
Pak Harto Tidak Mendapatkan Penghargaan Yang Layak Dia Dapatkan 13 January 2008
Posted by indra in : Opini, Kejadian Terbaru , 27 comments
Picture courtesy of Channel NewsAsia.
Minister Mentor Singapura Lee Kuan Yew mengunjungi mantan presiden Indonesia Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina hari ini (13/1). Saat ini, Pak Harto masih dalam kondisi kritis setelah beberapa organ tubuhnya tidak berfungsi.
Lee Kuan Yew, yang mengadakan konferensi pers dengan media Singapura setelah kunjungan tersebut, memuji Pak Harto yang telah memberikan kemajuan dan pembangunan bagi Indonesia, dan stabilitas ke wilayah Asia Tenggara. Menurut beliau, saat ini mantan presiden Indonesia tersebut tidak mendapatkan penghargaan yang layak dia dapatkan, mengingat sampai menjelang akhir hayatnya pun, Pak Harto terus dikritik mengenai korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukannya selama 32 tahun beliau berkuasa.
Mr. Lee adalah (mantan) kepala negara sahabat pertama yang mengunjungi Pak Harto sejak beliau mulai dirawat di rumah sakit sekitar seminggu yang lalu. Tim dokter yang menangani Pak Harto memberikan sedikit penjelasan kepada Mr. Lee mengenai kondisi kesehatan Pak Harto saat ini. Menurut Mr. Lee, beliau datang menjenguk Pak Harto dalam kapasitas sebagai teman lama.
Menurut Mr. Lee: "Saya sangat sedih melihat seorang teman lama — yang saya pernah bekerja bersama-sama dengannya selama 30 tahun — tidak mendapatkan penghargaan yang patut dia dapatkan. Dia patut mendapatkan penghargaan atas apa yang telah dia lakukan. Dan generasi muda sekarang — baik di Indonesia maupun di dunia — tidak lagi ingat apa yang telah dia lakukan dulu saat dia mulai membangun Indonesia. Saya ingat. Itulah sebabnya saya datang menjenguk dia."
"Dia telah berikan Indonesia kemajuan dan pembangunan. Dia mendidik bangsa Indonesia. Dia membangun jalan-jalan dan infrastruktur. Setelah kebijakan-kebijakan luar negeri mantan presiden Soekarno lainnya yang kadang ‘keterlaluan’ seperti konfrontasi, Pak Harto pada saat itu menstabilkan hubungan internasional, bekerja sama di ASEAN dan membuat ASEAN lebih berhasil dibandingkan SARC (sekarang bernama SAARC) di Asia Selatan. Dan sekarang, kita mempunyai Asia Tenggara yang stabil."
Menurut Mr. Lee: "Betul, memang ada korupsi. Betul, dia lebih memberikan kemudahan kepada keluarga dan teman dekatnya. Tapi, pada waktu itu, ada perkembangan yang nyata, dan pembangunan yang nyata. Saya rasa, rakyat Indonesia sangat beruntung. Mereka mempunyai jenderal yang berkuasa, dengan tim administrasi yang kompeten dan tim ekonom yang baik untuk membangun negara Indonesia."
Pak Harto melepas tampuk kepemimpinan di Indonesia pada tahun 1998, setelah krisis finansial Asia menjatuhkan ekonomi Indonesia, dan banyak yang menyalahkan Pak Harto atas jatuhnya ekonomi Indonesia tersebut. Namun, Mr. Lee menyatakan bahwa jatuhnya ekonomi Indonesia pada saat itu adalah bukan kesalahan Pak Harto.
Mr. Lee juga membandingkan Pak Harto dengan mantan pemimpin Burma (sekarang Myanmar) Ne Win, yang juga mulai berkuasa pada waktu yang hampir bersamaan dengan Pak Harto. Menurut beliau, Indonesia sekarang jauh lebih maju dibandingkan Myanmar karena kepemimpinan Pak Harto.
"Pada tahun 1960-an, Burma juga mengalami kudeta yang sama dengan jenderal Ne Win mengambil alih pimpinan. Dia tidak mempunyai tim ekonom sebaik Indonesia. Dia lebih memilih cara dia sendiri — sosialisme ala Burma — dan jika kita membandingkan Burma dengan Indonesia sekarang, kita bisa melihat perbedaan apa yang Pak Harto telah berikan."
"Saya sangat sedih melihat Pak Harto sekarang menjelang ajalnya tanpa kemuliaan yang dia patut dapatkan. Sangat sedikit sekali orang-orang seusia dia dan seusia saya yang masih ingat masa yang lalu. Dan jika mereka bisa mengingat masa lalu, mereka akan ingat bahwa pada tahun 1960-an, Indonesia berada dalam masa ekonomi yang sangat sulit, hyper-inflasi seperti Zimbabwe sekarang."
I can’t agree more with him. Mari kita lihat berita-berita di media, baik media dalam negeri seperti Detik maupun media luar negeri, yang selalu mengingat Pak Harto dengan kasus korupsi dan pelanggaran HAM-nya, dibandingkan jasa-jasanya dalam membangun bangsa dan negara Indonesia selama 30 tahun terakhir. Nobody is perfect, dan kita tidak bisa mengingat orang hanya dari kesalahannya dan melupakan semua kebaikannya. Apakah kita mau dicap sebagai bangsa yang tidak berterima kasih kepada mantan pemimpin kita?
Komentar Anonim Dengan URL Di Blogger 3 December 2007
Posted by indra in : Teknis, Opini, Kejadian Terbaru, Blogging , 9 comments
Entah kenapa, Google sekarang menerapkan aturan hanya user Google/Blogger yang bisa memberikan komentar dengan URL di blog-blog yang di-host di Blogspot. Walaupun kita tetap bisa menulis komentar dengan menggunakan nickname atau bahkan anonymous (tergantung setting si empu-nya blog), tetapi sekarang kita tidak bisa lagi meninggalkan jejak URL situs blog kita, kecuali kalau kita login ke Blogger atau Google pada saat memberikan komentar.
Saya kurang tahu alasan mereka meng-implementasi-kan kebijakan ini, yang pasti hal ini menyulitkan pembaca untuk mengisi komentar dan ingin meninggalkan jejak URL, kecuali kalau si pembaca juga adalah pengguna Blogger. Walaupun Google sekarang sedang menguji penggunaan OpenID sebagai identitas, saya merasa hal ini tidak akan cukup banyak membantu, mengingat penggunaan OpenID masih belum terlalu popular di kalangan blogger, apalagi di kalangan pembaca blog. Ingat, tidak semua pembaca blog adalah blogger. Bahkan, banyak diantara kita yang tidak menyadari kalau kita sebenarnya punya OpenID. Saya saja baru tahu kalau account Technorati dan Wordpress.com saya ternyata juga berfungsi sebagai OpenID, setelah berkunjung ke website-nya.

OK, paling tidak hal ini memudahkan pengguna Wordpress.Com seperti Dian untuk mengisi komentar, tapi bagaimana dengan user seperti saya yang mempunyai blog utama yang di-hosting sendiri? Masak harus pake account Technorati untuk meninggalkan jejak?
Semoga Google/Blogger bisa mempertimbangkan keputusan ini kembali, dan kalau bisa, revert back ke kebijakan sebelumnya. Boleh lah kalau mau mengimplementasikan penggunaan OpenID sebagai identitas untuk menulis komentar, tapi kan tidak harus menghilangkan penggunaan URL sebagai identitas.
Budget Airline Segera Terbangi Jalur Singapura-KL 27 November 2007
Posted by indra in : Jalan-jalan, Opini, Informasi , 4 comments
Kabar baik untuk para budget traveller, budget airline akan segera diberikan "jatah" untuk menerbangi salah satu jalur penerbangan termahal di Asia: Singapura ke Kuala Lumpur, Malaysia dan sebaliknya. Di tahap awal implementasi kebijakan ini mulai tanggal 1 Februari 2008, jatah untuk budget airline ini akan dibatasi dulu, maksimal empat penerbangan per hari-nya, dua penerbangan untuk budget airline Singapura dan dua penerbangan untuk budget airline Malaysia. Namun, setelah bulan Desember 2008, tidak akan ada lagi pembatasan, mengingat mulai bulan tersebut, jalur penerbangan antar ibukota ASEAN akan dibuka dan tidak akan lagi dibatasi.
Hingga saat ini, jalur penerbangan Singapura-Kuala Lumpur dimonopoli oleh maskapai penerbangan nasional Singapura dan Malaysia, Singapore Airlines dan Malaysia Airlines. Karena monopoli tersebut, harga tiket Singapura-Kuala Lumpur tidak pernah murah, minimum sekitar S$400 pulang pergi, padahal penerbangan jarak pendek ini hanya memakan waktu sekitar 50 menit. Bandingkan dengan harga tiket Singapura-Jakarta yang bisa turun drastis ke sekitar S$200 pulang pergi. Dengan masuknya budget airlines di jalur ini, diharapkan kompetisi akan meningkat dan harga tiket akan menurun.
Saya memperkirakan AirAsia, budget airline terkemuka di Malaysia, akan mendapatkan jatah dua penerbangan tersebut, sedangkan dari Singapura, mungkin Tiger Airways atau JetStar yang akan menerbangi jalur ini.
Mari kita lihat nanti, sampai sejauh mana harga tiket pesawat Singapura-Kuala Lumpur bisa turun. Saya memperkirakan harganya tetap tidak akan bisa menyaingi harga tiket coach (bus) dari Singapura ke Kuala Lumpur, yang harganya untuk one-way hanya sekitar S$20 untuk bus AC biasa, dan S$50 untuk bus SVIP yang lebih mewah dan nyaman. Dengan adanya jalan tol Utara-Selatan di Malaysia, perjalanan bus dari Singapura ke Kuala Lumpur hanya memakan waktu 4-5 jam saja. Sehingga, perbedaan antara naik bus dengan naik pesawat sebenarnya tidak terlalu jauh, apalagi kalau dihitung waktu kita untuk check-in di bandara dan menunggu keberangkatan pesawat. Satu lagi, bandara internasional Kuala Lumpur (KLIA) juga terletak cukup jauh dari pusat bandar KL, sekitar 1 jam naik taksi dan mungkin lebih kalau naik bus. Jadi mungkin, bagi para backpacker, perjalanan dengan menggunakan bus masih lebih diminati.
Picture courtesy of Wikipedia.





