Cuma Nomor Tiga 11 May 2007
Posted by indra in : Obrolan Santai , 9 comments
Ikut-ikutan nulis postingan yang narsis dan basbang.
Pertama, baca postingan Harry disini. Wah, website-nya (to be precise, weblog-nya), berada di urutan nomor satu pencarian kata “harry” di google.co.id. Hebat! Padahal nama Harry kan cukup banyak digunakan baik di Indonesia maupun di negara lain.
Kedua, baca postingan Eko disini. Wah, blog-nya beliau juga berada di urutan nomor satu pencarian kata “eko” di google.co.id. Padahal nama Eko kan termasuk banyak dipakai di Indonesia. Eh, Bi[G] juga ikut-ikutan. Beliau juga berada di urutan nomor satu untuk pencarian kata “ady” di google.co.id.
Penasaran, akhirnya saya pun mencoba search kata “indra” di google.co.id. Inget, cuma di google.co.id, bukan di google.com, google.com.sg atau di situs Google lainnya.
Hasilnya?

Tidak di nomor satu.
Rumah Indra ada di urutan ketiga. Planet Indra ada di urutan kelima. Minda Indra ada di urutan keenam. Harap maklum, saya adalah bukan blogger senior seperti ketiga teman saya yang saya sebutkan diatas.
Selain itu, nama saya juga termasuk nama yang sering digunakan di Indonesia.
Tentu saja, kalau saya search berdasarkan keyword “indra pramana”, situs saya yang akan muncul pertama, bahkan jika kita search di google.com. Itu mah jelas udah ngga aneh lagi,
yang aneh itu adalah urutannya bisa berbeda kalau kita menggunakan situs Google yang berbeda. Sebagai contoh, kalau kita search keyword “indra pramana” di google.com atau google.com.sg, website saya akan muncul duluan, walaupun masih pake alamat lama (yang memang masih aktif). Tapi kalau search keyword yang sama di google.co.id, Planet Indra yang akan muncul duluan. Kenapa bisa begitu ya?
BTW, mau tahu siapa yang nongkrong di urutan nomor satu pencarian keyword “indra” di google.co.id? Sebuah website berbahasa Spanyol, dengan nama Indra Sistemas. Loh, kok?
Ngobrol dengan Budi Putra dan Rane Hafied 13 January 2007
Posted by indra in : Komunitas Singapura, Obrolan IT, Obrolan Santai, Pengalaman , 8 comments
Pada tanggal 31 Desember 2006, tepat pada Hari Raya Idul Adha, saya menerima SMS dari Rane “JaF” Hafied, teman blogger di Singapura. Beliau mengucapkan Selamat Idul Adha, sekalian memberitahukan kalau Budi Putra, seorang blogger senior Indonesia yang juga adalah wartawan Tempo, akan datang ke Singapura pada tanggal 7 Januari 2007. Setelah nomor saya diteruskan oleh Pak Rane ke Pak Budi, tidak lama kemudian muncul SMS dari Pak Budi, yang mengajak saya dan Pak Rane untuk bertemu di hotel tempat beliau menginap di seputar Orchard.
Hari Minggu, 7 Januari 2006, saya menuju ke hotel Meritus Mandarin di seputar Orchard, tempat Pak Budi menginap. Sampai kesana sudah jam 8:45pm, telat 15 menit dari jadwal. Pak Rane ternyata sudah datang duluan, dan sempat mengobrol dengan Pak Budi di lobby hotel sebelum kemudian mereka menyambut kedatangan saya. Kita bertiga pun menyeberang Orchard Road menuju kafe Starbucks yang berlokasi tepat di seberang hotel.
Ditemani beberapa gelas kopi untuk Pak Budi dan Pak Rane, serta satu gelas ice chocolate untuk saya (yang memang tidak suka kopi), kita bertiga langsung terlibat dalam diskusi yang asyik, tentang blogging dan dunia blogosphere Indonesia. Sebagai seorang blogger pemula, saya benar-benar mendapatkan banyak ilmu dan informasi dari obrolan kita bertiga yang sangat fruitful itu. Pak Budi juga sharing tip dan trik-nya bagaimana untuk lebih “serius” dalam nge-blog, diantaranya adalah dengan menulis content yang bagus, dengan tema yang spesifik ke bidang yang memang kita kuasai, dan juga dengan penggunaan nama domain sendiri (tidak menggunakan blogspot.com atau wordpress.com, misalnya).
Obrolan juga terus berlanjut dengan diskusi mengenai dunia blog Indonesia pada umumnya, dari diskusi mengenai acara Blog Fun Day yang diadakan di Bandung bulan lalu, satpam yang ikutan nge-blog, sampai kasus seleb blog dan jablai blog yang mewarnai blogosphere Indonesia selama sebulan terakhir. Tak terasa, lebih dari dua jam kita ngobrol disana, sampai tidak terasa waktu sudah sangat larut malam, dan sudah waktunya saya pamit untuk menjemput istri yang baru selesai shopping di Paragon.
Kita masih menyempatkan untuk mampir kembali ke hotel, dan Pak Budi memberikan kenang-kenangan kepada saya dan Pak Rane, berupa sebuah buku berjudul “Planet Digital, Manuver CDMA di Indonesia“. Buku ini adalah buku kelima yang ditulis oleh Pak Budi, dan merupakan buku ketiga dari e-triloginya stelah Planet Seluler (2004) dan Planet Internet (2005). Pak Rane pun memberikan kenang-kenangan kepada saya dan Pak Budi, berupa sebuah buku agenda dari MediaCorp Radio, tempat Pak Rane bekerja.
Benar-benar merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga. We really had a fruitful and refreshing discussion, indeed. Sayang saking asyiknya ngobrol, jadi tidak sempat berfoto-foto dan bikin skrinsyut. Padahal udah bela-belain bawa kamera.
Gerakan “Jangan Komen di Blog Seleb” Tidak Berhasil? 21 December 2006
Posted by indra in : Opini, Obrolan Santai , 20 comments
Hmm… kayaknya gerakan Jangan Komen di Blog Seleb yang “diprakarsai” (baca: “dikompori”) oleh Andry ternyata tidak berhasil ya?
Tentu saja, regardless apakah ini cuma bercanda atau bukan.
Buktinya, posting Priyadi (yang notabene adalah salah satu seleb blog Indonesia) mengenai topik ini tetap mendapatkan 122 komentar (pada saat artikel ini ditulis). Padahal saya sendiri belum naro komentar disana lho.
Saya sendiri adalah salah satu “korban” yang tadinya menyangka gerakan ini adalah gerakan beneran, dan bukan cuma bercanda. Udah siap-siap mau ngeluarin jurus-jurus bantahan dengan opini seperti “para seleb blog itu menjadi seleb karena kualitas tulisannya”, dan lain-lain. Ah, mungkin karena saya tidak tahu kalau para warga kampung Gajah memang suka serius dalam bercanda.
Cimahi 26 September 2006
Posted by indra in : Obrolan Santai , 286 comments
Membaca postingannya Koen, salah seorang rekan BemoNet, mengenai Cimahi, kota kelahiran saya, membuat saya kembali membayangkan masa kecil saya selama tinggal disana. Reminiscing, kalau mau minjem istilah “keren”-nya. Sebuah kota kecil yang penuh kenangan, mengingat disanalah rumah (orang tua) saya ketika saya dilahirkan (walaupun saya sendiri lahir di sebuah rumah sakit bersalin di Bandung). Di kota itu jugalah saya menghabiskan masa kecil saya, dari sejak bayi hingga kelas 5 SD, sebelum akhirnya pindah ke Tangerang, mengikuti orang tua yang pindah kesana.
Sewaktu saya dilahirkan, orang tua saya tinggal di sebuah “gubuk” di daerah Cimareme, daerah pedesaan yang terletak di luar kota Cimahi, sebelah barat, ke arah Padalarang. Saya sendiri tidak akan ingat tepatnya dimana rumah kami itu berada, tapi yang pasti rumah itu berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Cimahi dengan Padalarang. Tentu saja, jalan raya itu sudah tidak pernah lagi dilewati oleh banyak orang sejak dibukanya jalan tol Padalarang-Cileunyi, yang sekarang malah sudah menyambung ke Jakarta lewat jalan tol Cipularang dan Cikampek.
Keluarga kami sempat pindah rumah ke daerah Cibabat, yang terletak di dekat pusat kota Cimahi, sebelum akhirnya menetap secara lebih permanen di daerah Cimindi, yang terletak di sebelah timur pusat kota Cimahi, di antara kota Cimahi dan Bandung. Rumah kami tersebut terletak tidak jauh dari perlintasan rel kereta api, yang sekarang sudah dibuat jembatan layang melewati perlintasan tersebut, dan juga tidak jauh dari persimpangan jalan ke Gunung Batu/Pasteur dan Leuwigajah.
Saya melewati masa TK dan SD saya disana. Sekolah taman kanak-kanak (TK) saya adalah TK Bhayangkara, yang berlokasi di sebuah kompleks kantor polisi di daerah Cibabat, tidak jauh dari rumah di Cimindi pada waktu itu. Sementara sekolah dasar (SD) saya adalah SD Negeri 13, yang terletak di pusat kota Cimahi. Saya lupa nama jalannya, tapi kompleks sekolah ini terletak di belakang kantor walikota dan mesjid agung Cimahi. Jalannya sejajar dengan Jalan Pasar Atas (kalau tidak salah), dan tepat di depan sekolah, jalan tersebut menyerong ke kiri dan bergabung dengan Jalan Pasar Atas di sebelah utaranya. Pada waktu itu, SDN 13 adalah salah satu sekolah dasar favorit di Cimahi, dan kelihatannya masih sampai sekarang.
Sekarang, dengan semakin berkembangnya Bandung sebagai sebuah kota mini-metropolitan, eksistensi kota Cimahi menjadi sedikit terlupakan. Rumah di Cimindi, yang dulunya masuk wilayah kota administratif Cimahi (dulu), sekarang sudah menjadi bagian dari wilayah kotamadya Bandung. Adalah tidak aneh kalau ada orang bertanya ke saya, saya orang mana, dan saya akan menjawab orang Bandung, dan bukan orang Cimahi. Secara saya sendiri memang lahir di Bandung (rumah sakit bersalin Limijati, tempat saya lahir dulu, itu ada di pusat kota Bandung), dan juga rumah orang tua saya di Cimindi juga sekarang sudah masuk wilayah kotamadya Bandung, bukan lagi masuk wilayah Cimahi.
Jadi, apakah saya akan melupakan Cimahi? Tentu saja tidak. Ada banyak kenangan saya selama SD disana.
Naik angkot dari Cimahi jurusan Bandung (Stasiun Hall ataupun Kebon Kelapa, pada waktu itu) untuk pulang dari sekolah ke rumah. Bernyanyi paduan suara dan bermain musik di kantor walikota Cimahi. Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan lainnya, yang saya sendiri mungkin sudah banyak yang hampir lupa dan tidak bisa mengingat semuanya…
Ikutan Bikin Lipogram Dong! 2 August 2006
Posted by indra in : Obrolan Santai , 2 comments
Pertama kali saya membaca tulisan Renatha yang judulnya “A Lipogram“, saya tadinya bingung maksudnya itu apa. Baru ngeh setelah saya cek definisi “lipogram” di Wikipedia. Ternyata teman saya itu mencoba menulis artikel tanpa huruf e sama sekali.
Menurut Wikipedia, lipogram, yang berasal dari bahasa Yunani kuno lipagrammatos, yang berarti “huruf yang hilang”, adalah permainan menulis karangan dengan satu huruf yang hilang, biasanya adalah huruf vokal yang sering digunakan. Kalau bahasa Inggris, huruf vokal yang sering digunakan adalah e, sedangkan di bahasa Indonesia, huruf vokal yang sering digunakan adalah a.
Eh, setelah Renatha, ternyata Mbak Okke juga menyusul membuat lipogram disini. Dan beliau bahkan membuka lembaran project-nya untuk mengumpulkan koleksi lipogram yang sudah dibuat oleh rekan-rekan lain. Dan undangan ini ternyata memotivasi rekan-rekan blogger lain untuk membuat lipogram, seperti Inong, Mbak Han dan Wisnu.
Jadi, boleh dong kalau saya ikut-ikutan bikin lipogram. Artikelnya bisa dilihat disini. Saya bikin pake bahasa Inggris dan huruf yang dihilangkan adalah huruf vokal o.
So…. gimana… Ren, Mbak, sah ngga nih artikelnya dimasukkin ke situ?
Lagu-lagu Indonesia di Singapura/Malaysia 11 May 2006
Posted by indra in : Opini, Obrolan Santai , 124 comments
Lagunya Ratu yang berjudul “Teman Tapi Mesra” adalah lagu yang sudah cukup lama, kalau ngga salah tahun lalu (2005) popular di Indonesia. Pada waktu itu, lagu ini belum terlalu populer di Singapura sini. Saya ingat pertama kali kenal Pak JaF, tetangga yang juga sama-sama tinggal di Singapura, adalah pada waktu saya membaca artikel mengenai lagu ini di blog-nya. Saya inget waktu itu sampai ketawa ngakak membaca artikel tersebut, saking lucunya.
Waktu itu saya ngasih komentar buat ngajak kenalan beliau sekaligus bilang, untung anak-anak saya (pada waktu) itu tidak ada yang hapal sama lagu itu, karena lagu itu (pada waktu itu) tidak populer disini. Eh, ternyata saya kecepetan ngomong.
Sejak sekitar dua bulan yang lalu, ternyata lagu ini mulai populer di kalangan masyarakat Melayu di Malaysia dan tentu saja, di Singapura sini. Lagu tersebut telah bertengger lebih dari 9 minggu di chart MTV Jus Top-5. Di Singapura sini, lagu ini sering diputar oleh Ria 89.7 FM, dan radio ini adalah radio favorit pembantu saya di rumah, sekaligus juga radio favorit sopir bus sekolah anak saya.
Akibatnya, mudah ditebak. Anak saya yang laki-laki, Irza, jadi sering terekspos dan sering mendengar lagu ini, dan pada akhirnya menyukai lagu ini.
Saya tidak bisa menyalahkan anak saya untuk menyukai lagu ini. Lagu ini iramanya enak didengar, suara si penyanyi-nya (kalau ngga salah namanya Wulan? atau Mulan?) lumayan merdu, musiknya juga enak didengar. Sampai salah satu teman kantor saya yang asli orang Melayu Singapura minta bantuan saya untuk mencarikan MP3-nya biar dia bisa pakai untuk jadi ringtone handphone-nya dia.
Untungnya, anak saya masih berusia 4.5 tahun, jadi yah dia tidak begitu mengerti dengan maksud lirik yang dinyanyikan. Walaupun dia minta lagu ini dimasukkan kompilasi CD yang saya buatkan untuk dia, saya yakin dia memang suka dengan musiknya, dan bukan dengan liriknya.
Irza memang dari kecil suka dengan lagu-lagu yang berirama cepat dan riang, dan tidak pernah suka dengan lagu-lagu yang slow dan mellow. Dan apresiasi dia terhadap musik jauh lebih tinggi dibandingkan kakaknya, Inka yang sekarang sudah berusia lebih dari 6 tahun.
Bagaimanapun, saya melihat bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini, lagu-lagu dari Indonesia mulai merajai radio-radio Melayu di Singapura dan di Malaysia. Kalau dulu, persentase antara lagu Melayu (Malaysia/Singapura) dengan lagu Indonesia yang diputar adalah 70:30, sekarang sudah hampir 50:50, bahkan mungkin 40:60. Lagu-lagu yang sering diputar dan populer disini kebanyakan adalah lagu-lagu dari group musik dan bukan individual. Sebagai contoh: Ratu, Radja, Peter Pan, Ungu dan Dewa.
Mengapa lagu-lagu Indonesia bisa menyaingi lagu-lagu Melayu yang harusnya bisa lebih merajai pasar disini? Saya melihat kreativitas dari musisi-musisi Indonesia yang menjadi kunci sukses lagu-lagu Indonesia bisa berjaya disini. Kreativitas ini menjadikan lagu baru yang ditampilkan akan selalu berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Bandingkan dengan lagu-lagu Melayu hasil karya artis Malaysia atau Singapura, yang kayaknya lagunya gitu-gitu aja dari dulu. Tidak ada improvisasi, kreativitas dibandingkan lagu-lagu sebelumnya.
Saya hanya bisa bilang ke artis-artis Indonesia yang bisa menembus pasar Malaysia dan Singapura: keep up the good work! Sebagai orang Indonesia, tentu saya bangga kalau lagu-lagu Indonesia bisa digemari oleh teman-teman saya yang orang Singapura. Walaupun lagu-nya berjudul “Teman Tapi Mesra”…





