jump to navigation

Pak Harto Tidak Mendapatkan Penghargaan Yang Layak Dia Dapatkan 13 January 2008

Posted by indra in : Opini, Kejadian Terbaru , 27 comments

Picture courtesy of Channel NewsAsia.

Minister Mentor Singapura Lee Kuan Yew mengunjungi mantan presiden Indonesia Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina hari ini (13/1). Saat ini, Pak Harto masih dalam kondisi kritis setelah beberapa organ tubuhnya tidak berfungsi.

Lee Kuan Yew, yang mengadakan konferensi pers dengan media Singapura setelah kunjungan tersebut, memuji Pak Harto yang telah memberikan kemajuan dan pembangunan bagi Indonesia, dan stabilitas ke wilayah Asia Tenggara. Menurut beliau, saat ini mantan presiden Indonesia tersebut tidak mendapatkan penghargaan yang layak dia dapatkan, mengingat sampai menjelang akhir hayatnya pun, Pak Harto terus dikritik mengenai korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukannya selama 32 tahun beliau berkuasa.

Mr. Lee adalah (mantan) kepala negara sahabat pertama yang mengunjungi Pak Harto sejak beliau mulai dirawat di rumah sakit sekitar seminggu yang lalu. Tim dokter yang menangani Pak Harto memberikan sedikit penjelasan kepada Mr. Lee mengenai kondisi kesehatan Pak Harto saat ini. Menurut Mr. Lee, beliau datang menjenguk Pak Harto dalam kapasitas sebagai teman lama.

Menurut Mr. Lee: "Saya sangat sedih melihat seorang teman lama — yang saya pernah bekerja bersama-sama dengannya selama 30 tahun — tidak mendapatkan penghargaan yang patut dia dapatkan. Dia patut mendapatkan penghargaan atas apa yang telah dia lakukan. Dan generasi muda sekarang — baik di Indonesia maupun di dunia — tidak lagi ingat apa yang telah dia lakukan dulu saat dia mulai membangun Indonesia. Saya ingat. Itulah sebabnya saya datang menjenguk dia."

"Dia telah berikan Indonesia kemajuan dan pembangunan. Dia mendidik bangsa Indonesia. Dia membangun jalan-jalan dan infrastruktur. Setelah kebijakan-kebijakan luar negeri mantan presiden Soekarno lainnya yang kadang ‘keterlaluan’ seperti konfrontasi, Pak Harto pada saat itu menstabilkan hubungan internasional, bekerja sama di ASEAN dan membuat ASEAN lebih berhasil dibandingkan SARC (sekarang bernama SAARC) di Asia Selatan. Dan sekarang, kita mempunyai Asia Tenggara yang stabil."

Menurut Mr. Lee: "Betul, memang ada korupsi. Betul, dia lebih memberikan kemudahan kepada keluarga dan teman dekatnya. Tapi, pada waktu itu, ada perkembangan yang nyata, dan pembangunan yang nyata. Saya rasa, rakyat Indonesia sangat beruntung. Mereka mempunyai jenderal yang berkuasa, dengan tim administrasi yang kompeten dan tim ekonom yang baik untuk membangun negara Indonesia."

Pak Harto melepas tampuk kepemimpinan di Indonesia pada tahun 1998, setelah krisis finansial Asia menjatuhkan ekonomi Indonesia, dan banyak yang menyalahkan Pak Harto atas jatuhnya ekonomi Indonesia tersebut. Namun, Mr. Lee menyatakan bahwa jatuhnya ekonomi Indonesia pada saat itu adalah bukan kesalahan Pak Harto.

Mr. Lee juga membandingkan Pak Harto dengan mantan pemimpin Burma (sekarang Myanmar) Ne Win, yang juga mulai berkuasa pada waktu yang hampir bersamaan dengan Pak Harto. Menurut beliau, Indonesia sekarang jauh lebih maju dibandingkan Myanmar karena kepemimpinan Pak Harto.

"Pada tahun 1960-an, Burma juga mengalami kudeta yang sama dengan jenderal Ne Win mengambil alih pimpinan. Dia tidak mempunyai tim ekonom sebaik Indonesia. Dia lebih memilih cara dia sendiri — sosialisme ala Burma — dan jika kita membandingkan Burma dengan Indonesia sekarang, kita bisa melihat perbedaan apa yang Pak Harto telah berikan."

"Saya sangat sedih melihat Pak Harto sekarang menjelang ajalnya tanpa kemuliaan yang dia patut dapatkan. Sangat sedikit sekali orang-orang seusia dia dan seusia saya yang masih ingat masa yang lalu. Dan jika mereka bisa mengingat masa lalu, mereka akan ingat bahwa pada tahun 1960-an, Indonesia berada dalam masa ekonomi yang sangat sulit, hyper-inflasi seperti Zimbabwe sekarang."

I can’t agree more with him. Mari kita lihat berita-berita di media, baik media dalam negeri seperti Detik maupun media luar negeri, yang selalu mengingat Pak Harto dengan kasus korupsi dan pelanggaran HAM-nya, dibandingkan jasa-jasanya dalam membangun bangsa dan negara Indonesia selama 30 tahun terakhir. Nobody is perfect, dan kita tidak bisa mengingat orang hanya dari kesalahannya dan melupakan semua kebaikannya. Apakah kita mau dicap sebagai bangsa yang tidak berterima kasih kepada mantan pemimpin kita?