jump to navigation

Asap di Singapura Memburuk 7 October 2006

Posted by indra in : Komunitas Singapura, Opini, Kejadian Terbaru , trackback

Channel NewsAsia memberitakan bahwa situasi udara di Singapura mulai memasuki level “tidak sehat” sejak pagi tadi (Sabtu, 7 Oktober 2006). Level PSI di Singapura (Pollutant Standards Index) mulai memasuki level “tidak sehat” pada jam 8 pagi sewaktu mencapai level 101, dan sempat naik hingga ke level 130 pada jam 10 pagi tadi, sebelum akhirnya turun ke level 105 pada jam 12 siang.

National Environmental Agency (NEA) Singapura melaporkan bahwa asap yang masuk ke Singapura semakin memburuk semalam, dan arah angin mengakibatkan asap dari bagian selatan Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera Selatan) mengarah ke Singapura.

Problem yang sama juga dialami oleh Malaysia, termasuk Kuala Lumpur, mengharuskan banyak warga Malaysia untuk tinggal di rumah. Kabut asap tersebut juga telah menyebar ke seluruh wilayah Asia Tenggara, dan bahkan sampai ke Pasifik. Hari Kamis lalu, asap dari Kalimantan bahkan telah mencapai negara-negara kepulauan di Pasifik Barat.

Titik api yang disebabkan oleh pembakaran hutan dan ladang di Sumatera dan Kalimantan adalah penyebab utama kabut asap yang menyelimuti wilayah Asia Tenggara. Bukan hanya banyak blogger Singapura dan Malaysia yang mengeluarkan suara protes yang menghujat Indonesia, beberapa blogger Singapura di Indonesia juga menyuarakan keprihatinan mereka.

Nisa, seorang blogger Indonesia di Singapura, menulis:

Benar-benar tidak nyaman hidup dengan udara seperti ini. Dan semuanya ini hanya disebabkan beberapa orang di negara kita (Indonesia) yang membakar pepohonan untuk keuntungan mereka sendiri. Benar-benar rakus dan egois.

dan:

Tolong, pemerintah (Indonesia), bukan hanya kalian harus melakukan apa saja yang harus dilakukan (untuk menyelesaikan masalah ini), tapi juga ambil langkah-langkah yang lebih serius terhadap orang-orang yang rakus tersebut.

Rani, blogger Indonesia di Singapura lainnya, menulis:

Dan kita ini berada ribuan kilometer dari pusat asap tersebut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sekarang tinggal di Pekanbaru atau di kota lain di Sumatera.

Efek dari kabut asap ini benar-benar serius. Saya setuju dengan pendapat Nisa yang mengatakan bahwa kita tidak seharusnya bercanda dalam hal ini. Masalah ini telah membuat nama Indonesia semakin jelek di mata negara-negara tetangganya. Pemerintah Indonesia seharusnya mengambil langkah-langkah dengan lebih serius untuk mengatasi masalah ini.

Update - 8 Oktober 2006, 05:57 pagi:

Situasi kabut asap di Singapura semakin memburuk tadi malam, dengan level PSI mencapai 150 pada jam 9 malam kemarin. Saat ini, PSI berada di level 128.

Pemerintah Singapura telah menyatakan keprihatinannya ke pemerintah Indonesia dengan situasi yang semakin memburuk ini, menekankan bahwa masalah pembakaran hutan dan ladang yang menyebabkan kabut asap tersebut harus segera diatasi. Menteri Senior Goh Chok Tong mengatakan: “Saya berharap bahwa tahun depan, Indonesia bisa mengerti tentang keprihatinan kita dan bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah kabut asap ini.”

Pemerintah Singapura juga telah menawarkan bantuan ke Indonesia untuk mengatasi masalah itu, termasuk membantu dalam pembuatan awan buatan untuk memancing hujan. “Tergantung Indonesia, apakah mau menerima bantuan tersebut atau tidak,” kata Yacoob Ibrahim, menteri lingkungan hidup Singapura. Apakah pemerintah Indonesia mau menerima bantuan tersebut? :)

Sementara itu, wakil perdana menteri Malaysia Najib Tun Rajak mengatakan bahwa negara-negara ASEAN harus bersama-sama mengatasi masalah ini, diantaranya adalah menyediakan dana yang cukup besar untuk mengatasi masalah pembakaran ladang yang menjadi sumber masalah asap tersebut. Pernyataan ini secara tidak langsung menunjukkan ketidakmampuan pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah ini, paling tidak menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia bahkan tidak mampu mencegah para petani di Sumatra (dan Kalimantan) untuk membakar ladang mereka.

Sungguh memalukan. :(

[English version]

Comments»

1. Jeremy Ray - 8 October 2006

Indo memang malu2in, bukannya bertindak malah bilang “kami tidak bisa berbuat apa2, kami hanya berharap pada hujan”, jelas2 ini bukan musim hujan! Kenapa harus malu untuk minta bantuan dengan negara tetangga seperti Sing or Malay?? Toh mereka pasti punya peralatan yang lebih memadai…..gengsi kah? atau pemerintah kita sok pintar?

2. mela - 8 October 2006

jadi sedih euy… yakin sih… pemerintah indonesia pasti bisa ngatasin kebakaran… dana sdm???… insya allah ada kok… kendalanya gara-gara mereka TIDAK PEDULI siiihhh… :( (…

3. JaF - 8 October 2006

Heh.. saya sudah ndak tahu harus bilang apa pak. Udah kelewat mangkel. Apalagi anak saya sensitif banget. Sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena batuk-batuk. Kata dokter nya, elakangan hari makin banyak pasiennya yang menderita gejala serupa.. batuk-batuk, sesak nafas, flu dll.. Sekarang giliran saya dan nyonya juga hehehehe..

Kenapa ya seolah pak SBY ndak bisa berbuat apa2.. Padahal ini waktunya untuk bertindak tegas…

4. coni - 9 October 2006

kalo melihat dari sini: http://dte.gn.apc.org/Cfcr0.htm, tahun 2000 sudah diberitakan kalo sebenarnya bukan petani Indonesia yang melakukan pembakaran hutan…tapi sebetulnya perusahaan perusahaan dari negara tetangga yang membuka perkebunan kelapa sawit di sana. Ini sudah rahasia umum untuk orang di perkebunan Pekanbaru…tapi…entah mengapa hukum di Indonesia…yang bersalah bisa tetap lolos dari lobang jarum dan kembali melakukan pembakaran hutan lagi.
btw… 3 keponakan saya di Pekanbaru juga sakit tenggorokan semua…dan kalau ke sekolah harus memakai masker :( kasian…padahal baru kelas 1 SD.

5. dian - 9 October 2006

kasian yak..selalu kenak sial dari indonesia..tiap tahun.

pembakar hutan..gak punya oak ! semoga otaknya kebakar ! lha…wong gak punya…

6. maknyak - 10 October 2006

wah negara tetangga saja kena. ibarat borok, akhirnya melebar kemana-mana. harusnya pemerintah melakukan tindakan secepatnya. turut prihatin

7. cupi - 13 October 2006

saya pernah ngalamin yang lebih buruk dari ini, tahun 2002 di Duri Riau, jarak pandang cuman 10 meter, sekolah dan perkantoran libur. Mudah-mudahan semua ini bisa cepat teratasi ..

8. rinoa_sweet - 17 October 2006

gimana yah… ga bisa juga nyalahin pemerintah 100% sih, tapi memang planning pemerintah ga jelas juga, mestinya sudahi dong mengambil hasil alam indonesia, kejadian ini sudah cukup memprihatinkan kebayang ngga kejadian yang akan dialami anak cucu kita kedepan, jangan2 mereka sudah ngga kebagian lagi yang namanya udara segar… belum lagi indonesia bisa bangkit SDAnya sudah habis, ketika settap negara di dunia sibuk mempertahankan SDAnya, negara kita malah sibuk mengeksploitasinya keluar, disamping pemerintahan yang kurang tegas dalam mensikapi ditambah lagi pola pikir masyarakat kita akan kelestarian lingkungan kurang, kita tidak terlatih untuk mencintai lingkungan hidup kita yang tidak bisa di beli dengan uang sekalipun

9. Heri - 18 October 2006

waduh…. mana mo liburan ke KL dan SIN, ticket dan hotel ga bisa dicancel nih…. gimana ya?!? pusiiiiiiing.

rekan2 di Malay dan Singpor, please keep update about this Haze problem. apa ada source utk monitoring masalah asap di kedua negara ini?

10. indra - 31 October 2006

#9 - Heri: Kalau di SG, bisa dimonitor disini. Sekarang kabut asapnya sudah mulai menipis, tidak lagi separah minggu-minggu sebelum Lebaran.

11. tyaz - 10 November 2006

kabut asap nyebelin…
buat nama indonesia tercinta jatuh…
bisa bangun g y???
he2

12. shanty - 20 March 2007

aduh sangat memprihatinkan ya????????????
tapi itu kan bukan sepenuhnya salah pemerintah.
tul g?
ulah orang yng tak bertanggung jawab se……..

13. Minda Indra » Problem Asap Kembali Lagi? - 3 July 2007

[…] Walah. Mudah-mudahan kejadian buruk yang memalukan Indonesia tahun lalu tidak akan terulang lagi tahun ini. Bukankah bulan Juni lalu, sudah ada pertemuan menteri-menteri ASEAN yang membahas masalah ini? Pada waktu itu, Indonesia memasang target untuk mengurangi pembakaran hutan yang menyebabkan asap tersebut sampai setengahnya. Yah, mudah-mudahan saja target tersebut bisa tercapai. […]